Zikir yang Menghidupkan Hati : Ikatan Zahir dan Batin dalam Thariqat Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah

TNAJ.OR.ID – Dalam perjalanan tasawuf, zikir bukan sekadar lantunan lisan. Ia adalah denyut kehidupan hati nafas ruhani yang menghubungkan seorang hamba dengan Tuhannya. Melalui zikir, seorang salik menghadirkan kesadaran bahwa Allah senantiasa dekat dalam setiap detik kehidupannya.
Dalam Thariqat Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah, zikir memiliki kedudukan yang sangat agung. Ia menjadi jalan utama untuk menyucikan jiwa, menundukkan nafsu, serta menghadirkan Allah dalam kedalaman qalbu. Ciri khasnya adalah zikir khafi (tersembunyi), yaitu zikir dalam diam tidak terdengar oleh manusia, namun hidup dan berdenyut di dalam hati.
Allah ﷻ berfirman: “Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, serta tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205)
Dan firman-Nya:“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Zikir seperti ini bukan sekadar amalan, tetapi latihan kesadaran ruhani bahwa Allah lebih dekat daripada urat leher. Ia menghidupkan hati yang sebelumnya lalai, menjadi sadar dan terarah.
Peran Guru Mursyid : Penjaga Arah Perjalanan
Dalam perjalanan ini, zikir tidak dapat dipisahkan dari bimbingan seorang guru mursyid. Sebab zikir tanpa tuntunan ibarat berjalan di jalan gelap tanpa penunjuk arah.
Guru mursyid adalah pewaris ruhani yang membimbing murid agar zikirnya tidak berhenti pada lisan, tetapi menjadi cahaya yang menerangi batin.
Allah ﷻ berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)
Dan firman-Nya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Dari sinilah lahir hubungan antara murid dan guru, bukan sekadar hubungan lahiriah, tetapi ikatan zahir dan batin. Secara zahir, murid hadir dalam majelis, mendengar nasihat, dan mengikuti amalan. Secara batin, ia menghadirkan cinta, adab, dan ketundukan hati sebagai wasilah menuju Allah.
Cinta Murid dan Kesabaran Guru
Cinta seorang murid kepada guru yang mursyid bukanlah cinta yang membutakan, melainkan cinta yang melahirkan adab. Ia menundukkan ego, menjaga lisan, serta menerima teguran sebagai obat, bukan sebagai luka. Ia memahami bahwa setiap didikan sang guru adalah bentuk kasih sayang yang tersembunyi.
Adapun guru mursyid adalah sosok yang membimbing dengan kesabaran yang dalam. Ia tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi menuntun dengan keadaan (hal), akhlak, dan keteladanan. Seringkali ia memilih hidup sederhana, menjauh dari hiruk pikuk dunia bukan karena lemah, tetapi demi menjaga kejernihan hati agar tetap terhubung dengan Allah.
Dalam diamnya, ia mendidik. Dalam kesederhanaannya, ia memancarkan cahaya.
Isyarat Ruhani dan Keberlanjutan Amanah
Rosululllah bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari dada manusia, tetapi Dia mencabut ilmu dengan wafatnya para ulama…” (HR. Bukhari)
Dalam perjalanan thariqat ini, para salik juga mengenang nasihat masyayikh TNAJ yang telah mendahului. Almukarom Allahyarham Buya Syekh DR Syekh Salman Daim (silsilah ke-36) pernah memberikan isyarat ruhani bahwa akan hadir “Buya-Buya kecil” sebagai penerus perjuangan.
Isyarat ini bukan sekadar kabar zahir, melainkan penegasan makna batin bahwa dalam pandangan orang-orang alim, perpisahan bukanlah akhir. Ia hanyalah jarak antara ruang dan waktu. Namun Ruh perjuangan tetap hidup melalui pewarisan ilmu, adab, dan amanah.
Maka keberlanjutan sanad dan bimbingan adalah rahmat, agar umat tidak terputus dari cahaya petunjuk.
Penerus Amanah (Lima Pandawa)
Sebagian jamaah memahami isyarat tersebut yakni hadirnya penerus-penerus amanah yang dikenal dengan sebutan “lima Pandawa”, yaitu zuriat yang mewariskan ilmu dan darah beliau:
1. Buya DR Syekh Muhammad Nur Ali Alkholidi, S.Ag., M.Hum ( Penerus Mursyid Silsilah 36 TNAJ )
2. Tuan Guru Anwar Sajali Alkholidi, M.Pd ( Ketua Majelis Fatwa TNAJ )
3. Tuan Guru Rahmat Hidayat Alkholidi, S.Ag., M.Pd ( Sekretaris Majelis Fatwa TNAJ )
4. Tuan Guru Zainuddin Alkholidi, S.H., M.H ( Wakil Ketua Majelis Fatwa TNAJ )
5. Tuan Guru Dr. Munawar Kholil Alkholidi, S.Th.I., M.Pd.I ( Ketua Majelis Mursyidin TNAJ )
Menjaga Adab dalam Menyikapi Perbedaan
Dalam menyikapi hal ini, seorang murid diajarkan untuk menjaga kejernihan hati dan adab. Tidak menilai dengan hawa nafsu, serta tidak terjebak pada penilaian zahir semata.
Sebab hakikat warisan dalam tasawuf bukan pada rupa, melainkan pada kesinambungan ilmu, akhlak, dan amanah ruhani.
Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Maka seorang murid hendaknya menjaga prasangka baik, bersikap lembut dalam perbedaan, serta tidak tergesa-gesa dalam menilai. Ikatan kepada guru dan penerusnya dijaga dengan adab, bukan dengan fanatisme yang membutakan.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penutup: Zikir dan Guru, Dua Cahaya yang Menyatu
Pada akhirnya, dalam Thariqat Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah, zikir dan guru adalah dua hal yang tidak terpisahkan.
Zikir menghidupkan hati. Guru menjaga arah perjalanan.
Ketika keduanya bersatu zikir yang hidup dan adab yang terjaga seorang murid akan berjalan dengan cahaya, bukan sekadar dengan dugaan.
Dan pada titik itulah ia memahami: perjalanan ini bukan tentang siapa yang tampak di mata, melainkan tentang siapa yang hidup di dalam hati, yang membimbingnya dengan kasih menuju Allah.
Dalam diam sang mursyid, terdapat cinta yang mendidik jiwa, mengantar seorang hamba pulang kepada Tuhannya.
Penulis: Anash/ KH. Nur Ahmad -Menantu Tuan Guru Buya Syekh Anwar Sajali Al-Kholidi, M.Pd