Jejak Dakwah dan Sejarah Berdirinya Majelis Zikir TNAJ di Provinsi Bengkulu

BENGKULU, TNAJ.OR.ID – Tidak semua bangunan dari sebuah rencana besar. Ada yang tumbuh dari sebuah amanah yang disampaikan dalam keheningan menjelang Subuh, dijaga dengan kesabaran selama bertahun-tahun, hingga akhirnya menjadi tempat bernaung bagi para pencari ridha Allah SWT.

Begitulah kisah berdirinya Majelis Darul Mukhlisin Thariqat Naqsyabandiyah Alkholidiyah Jalaliyah di Provinsi Bengkulu, sebuah perjalanan dakwah yang berawal dari amanah ruhani dan terus hidup melalui zikir, pengabdian, serta keikhlasan.

Di balik berdirinya majelis ini tersimpan perjalanan panjang. Sejarahnya bukan sekadar tentang pembangunan sebuah bangunan, melainkan kisah pengabdian seorang murid dalam memegang amanah guru untuk menegakkan dakwah Thariqat Naqsyabandiyah Alkholidiyah Jalaliyah di Provinsi Bengkulu.

Syekh Muda Muhammad Yusro Budiono, S.TP., mengisahkan bahwa perjalanan tersebut bermula pada tahun 2004. Saat itu, menjelang waktu Subuh di Rumah Ibadah Suluk Darus Shofa Li Ahli Wafa, Bandar Tinggi, Simalungun, Sumatera Utara, beliau menerima amanah langsung dari Guru Besar Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Alkholidiyah Jalaliyah Allahuyarham Buya DR Syekh Salam Da’im.


Menurut SM Yusro, amanah dalam dunia tasawuf memiliki makna yang sangat mendalam. Amanah merupakan ikatan ruhani antara guru dan murid. Amanah diberikan kepada seseorang yang dinilai siap menjaga adab, membimbing umat, serta mengajarkan amalam zikir kepada generasi berikutnya.

“Ketika amanah itu diberikan, saya menyadari bahwa perjalanan ke depan tidak akan mudah. Namun amanah guru adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab yang harus dijaga dengan penuh keikhlasan,” tuturnya.

Bertahun-tahun dilalui dengan penuh kesabaran dan perjuangan. Berbagai keterbatasan menjadi bagian dari proses dakwah yang harus dijalani. Waktu, tenaga, pikiran, bahkan air mata menjadi saksi perjalanan dalam mempertahankan amanah itu agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Bagi seorang salik, jalan menuju Allah memang bukan jalan yang dipenuhi kemewahan ataupun popularitas. Ia adalah jalan sunyi yang mengajarkan kesabaran, keikhlasan, serta perjuangan melawan hawa nafsu demi memperoleh keridhaan Allah SWT.

Dalam setiap langkah dakwah, para ikhwan terus dibina agar memperbanyak zikir, memperbaiki akhlak, memperkuat ibadah, serta menjaga ukhuwah Islamiyah.

Berdirinya Cikal Bakal Majelis


Hampir satu dekade setelah menerima amanah, perjuangan tersebut mulai menampakkan hasil. Pada tahun 2013 berdirilah cikal bakal Majelis Darul Mukhlisin yang menjadi pusat kegiatan zikir, tawajjuh, dan pembinaan ruhani bagi jamaah Thariqat Naqsyabandiyah Alkholidiyah Jalaliyah di Provinsi Bengkulu.

Bangunan itu berdiri di Jalan Lintas Kepahiang – Pagar Alam, Desa Penanjung Panjang Atas, Kecamatan Tebat Karai, Kabupaten Kepahiang.

Bangunannya memang masih sederhana. Namun, kesederhanaan itu tidak mengurangi nilai keberkahannya. Dari tempat inilah masyarakat setempat memperbaiki diri, berzikir, membersihkan hati, melantunkan munajat dan doa-doa, serta banyak hati yang datang dengan kegelisahan kemudian pulang membawa ketenangan.

Majelis ini pun perlahan menjadi rumah bagi para salikin yang ingin memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus mempererat hubungan antarsesama manusia.

Peletakan Kiblat sebagai Simbol Arah Perjuangan

Perjalanan pembangunan majelis terus berlanjut. Pada penghujung tahun 2019, dilakukan peletakan kiblat oleh Ketua Umum Majelis Fatwa Thariqat Naqsyabandiyah Alkholidiyah Jalaliyah Tuan Guru SM Anwar Sazali Alkholidi, M.Pd.

Momentum tersebut bukan sekadar bagian dari pembangunan fisik bangunan, tetapi juga memiliki makna spiritual yang sangat mendalam. Dalam pandangan tasawuf, kiblat melambangkan arah tujuan hidup seorang salik. Seluruh ibadah, zikir, pengabdian, dan perjuangan harus senantiasa mengarah kepada Allah SWT.

Peletakan kiblat menjadi pengingat bahwa keberadaan majelis bukan untuk mengejar kemegahan, melainkan menjadi tempat membimbing manusia agar semakin dekat kepada Sang Pencipta.

Lahirnya Nama “Darul Mukhlisin”

Perjalanan itu semakin sempurna ketika pada awal tahun 2020, Mursyid Pimpinan Thariqat Naqsyabandiyah Alkholidiyah Jalaliyah, Buya DR Syekh Muhammad Nur Ali Alkholidi, S.Ag, M.Hum, memberikan nama “Darul Mukhlisin” kepada majelis tersebut.

Menurut, SM Yusro, nama tersebut mengandung doa sekaligus harapan besar. “Daar” berarti rumah atau tempat tinggal, sedangkan “Al-Mukhlisin” berarti orang-orang yang ikhlas.

Dengan demikian, Darul Mukhlisin dimaknai sebagai rumah bagi orang-orang yang berusaha menjaga keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT.

Bagi Yusro, nama itu bukan sekadar identitas, tetapi menjadi cita-cita agar setiap jamaah yang datang terus belajar membersihkan hati dari sifat riya, ujub, dan penyakit hati lainnya, sehingga setiap amal benar-benar dilakukan semata-mata karena Allah SWT.

Menjadi Rumah Pembinaan Ruhani


Seiring berjalannya waktu, Majelis Darul Mukhlisin berkembang menjadi pusat pembinaan spiritual bagi masyarakat. Berbagai kegiatan seperti zikir, tawajjuh, kajian keislaman, hingga pembinaan akhlak terus dilaksanakan secara istiqamah.

Majelis ini mengajarkan pentingnya menjalankan syariat Islam secara utuh, memperbanyak zikir, menghormati guru, mencintai sesama, serta menjaga persaudaraan sebagai fondasi kehidupan umat.

Menurut Yusro, ukuran keberhasilan seorang salik bukanlah banyaknya pengikut ataupun megahnya bangunan yang dimiliki.

“Keberhasilan sejati adalah ketika hati semakin dekat kepada Allah SWT, akhlak semakin lembut, dan kehidupan kita semakin memberikan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Warisan Amanah untuk Generasi Mendatang


Kini, lebih dari dua dekade sejak amanah itu diterima pada Subuh tahun 2004, Majelis Darul Mukhlisin terus berdiri sebagai saksi perjalanan dakwah Thariqat Naqsyabandiyah Alkholidiyah Jalaliyah di Bengkulu.

Setiap tiang bangunan yang berdiri menyimpan kisah perjuangan. Setiap zikir menjadi saksi doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh harap. Dan setiap langkah jamaah yang datang mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah adalah perjalanan panjang yang harus ditempuh dengan kesabaran dan keikhlasan.

Bagi para salikin, jalan ini bukanlah jalan mencari kemasyhuran. Ia adalah jalan panjang menuju penyucian hati, memperbaiki akhlak, serta mengharap ridha Allah SWT.

Dari sebuah amanah yang disampaikan dalam keheningan menjelang Subuh, kini telah lahir sebuah rumah bagi orang-orang yang ikhlas, Majelis Darul Mukhlisin, yang terus menyalakan cahaya zikir dan membimbing hati-hati yang rindu untuk semakin dekat kepada Allah SWT.

Add a Comment

Your email address will not be published.

Berita Terbaru

Pondok Pesantren Darusshofa

AYO MONDOK
PENERIMAAN SANTRI BARU

IBS Marjanul Qalbi

AYO MONDOK
PENERIMAAN SANTRI BARU