Cinta Dunia dan Cara Mengatasinya dalam Pandangan Tasawuf

SIMALUNGUN, TNAJ.OR.ID – Allah SWT telah memberikan peringatan yang tegas tentang hakikat kehidupan dunia.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan sekadar persinggahan yang penuh ujian. Namun dalam realitas kehidupan, tidak sedikit manusia yang justru menjadikan dunia sebagai pusat orientasi hidupnya.
Para ulama tasawuf menggolongkan hubbud dunya (cinta dunia) sebagai penyakit hati yang sangat berbahaya.
Dalam literatur klasik, seperti yang dikutip dari buku Penyakit-Penyakit Hati karya Muhammad Hafiun, hubbud dunya dijelaskan sebagai kecintaan berlebih terhadap dunia yang dapat melalaikan manusia dari mengingat Allah SWT dan kehidupan akhirat.
Penyakit ini tidak hanya menghinggapi orang awam, tetapi juga bisa muncul dalam diri seorang muslim tanpa disadari. Ketika hati terlalu terikat pada dunia, maka segala sesuatu diukur dengan standar duniawi semata.
Memahami Makna “Jangan Mencintai Dunia”
Salah satu ajaran yang kerap disalahpahami adalah ungkapan, “Jangan mencintai dunia.”
Sebagian orang menafsirkannya secara keliru, seolah-olah harus hidup dalam kemiskinan, harus menjauhi kehidupan dunia, bahkan harus membenci dunia.
Padahal, ajaran tasawuf tidak mengajarkan demikian. Dunia tetap dibutuhkan. Manusia tetap makan, minum, bekerja, berkeluarga, dan menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Yang menjadi persoalan bukanlah dunia itu sendiri, melainkan keterikatan hati terhadap dunia.
Seseorang boleh memiliki harta, tetapi jika hatinya bergantung pada harta tersebut, maka ia akan gelisah ketika kehilangan. Seseorang boleh mencintai pasangan, tetapi jika jiwanya sepenuhnya bergantung, maka ia akan hancur saat ditinggalkan.
Di sinilah letak persoalannya, bukan pada apa yang dimiliki, tetapi pada apa yang menguasai hati.
Dunia sebagai Sarana, Bukan Tujuan
Dalam pandangan para sufi, hidup di dunia ibarat menunggang kendaraan. Kendaraan itu penting untuk mencapai tujuan, tetapi bukan untuk dipuja.
Begitu pula dunia. Ia adalah sarana menuju Allah, bukan tujuan akhir. Hati harus tetap diarahkan kepada Yang Maha Segalanya, bukan tenggelam dalam kenikmatan sementara.
Ciri-Ciri Hati yang Terikat Dunia
Salah satu tanda kuatnya keterikatan pada dunia adalah banyaknya rasa takut dalam diri, seperti, takut miskin, takut gagal, takut tidak dihargai, takut kehilangan, takut menghadapi masa depan dan sebagainya.
Selama rasa takut ini masih mendominasi hati, maka ketergantungan kepada dunia masih kuat. Sebab, hati yang benar-benar bersandar kepada Allah tidak akan dikendalikan oleh ketakutan duniawi.
Solusi Mengatasi Cinta Dunia
Cara mengatasi cinta dunia yang berlebihan bukanlah dengan meninggalkan dunia, tetapi dengan latihan (riyadhah) yang terus-menerus untuk membersihkan hati.
Dalam ajaran Thariqat Naqsyabandiyah Alkholidiyah Jalaliyah, umat dibimbing untuk melakukan riyadhah sebagai upaya menundukkan hawa nafsu dan melepaskan keterikatan hati kepada selain Allah SWT. Latihan ini dilakukan secara bertahap, konsisten, dan penuh kesungguhan dalam ibadah Suluk.
Beliau menjelaskan bahwa inti dari riyadhah adalah:
– Membersihkan hati dari ketergantungan selain kepada Allah
– Melatih keikhlasan dalam setiap amal
– Menjaga hati agar tidak terpaut pada dunia secara berlebihan
Ajaran ini sejatinya menjalankan perintah Allah SWT dan tuntunan Rasulullah SAW, yaitu menghadirkan hati yang hanya bergantung kepada-Nya.
Dalam praktiknya, seorang salik tetap hidup normal, tetap bekerja, berusaha, dan menjalani kehidupan. Namun, hatinya tidak lagi bergantung pada hasil duniawi.
Jika mendapatkan sesuatu ia bersyukur, jika tidak mendapatkan, ia tetap tenang.
Inilah tanda hati yang mulai merdeka dari dunia.
Mengubah Arah Hidup
Sering kali manusia tidak menyadari bahwa ia bukan sekadar hidup di dunia, tetapi hidup untuk dunia. Dari situlah lahir kegelisahan yang tiada akhir.
Maka, yang perlu dilakukan adalah mengubah arah, bukan meninggalkan dunia, tetapi tidak menjadikannya sebagai tujuan utama.
Ketika dunia tidak lagi menjadi pusat, hati akan mulai menemukan ketenangan yang selama ini dicari. Pada titik itulah, hidup terasa lebih ringan, meskipun keadaan tidak selalu mudah.
Penulis: Syekh Muda Muhammad Khoir – Pengurus Bidang Kaderisasi dan Keanggotaan Pimpinan Pusat Majelis Mursyidin Thariqat Naqsyabandiyah Alkholidiyah Jalaliyah (TNAJ) Indonesia.