Dahsyatnya Istighfar, Jalan Meraih Cinta dan Ampunan Allah

Jambi, tnaj.or.id – Ibadah merupakan kewajiban setiap hamba kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56).
Untuk dapat melaksanakan ibadah secara sempurna, seorang hamba dituntut membersihkan hati dari sifat-sifat tercela (mazmumah), sehingga mampu menghadirkan kesadaran penuh dalam mengingat Allah SWT, baik secara zahir maupun batin.
Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Cabang Majelis Mursyidin Thariqat Naqsyabandiyah Alkholidiyah Jalaliyah (TNAJ) Kabupaten Indragiri Hulu, Syekh Muda Muhammad Abdul Malik, dalam tausiyahnya pada kegiatan Suluk di Rumah Ibadah Suluk Darus Salikin, Rimbo Bujang, Jambi, Senin (5/1/2026).

SM Muhammad Abdul Malik menjelaskan pentingnya menjalankan ibadah dengan menghadirkan hati secara zahir dan batin. Menurutnya, dalam Thariqat Naqsyabandiyah Alkholidiyah Jalaliyah, terdapat 10 kaifiyat zikir yang diajarkan oleh Mursyid, yang harus benar-benar diamalkan dan dipahami dengan sungguh-sungguh agar zikir yang dilakukan mendapatkan ridha Allah SWT.
Pada kesempatan tersebut, SM Muhammad Abdul Malik secara khusus menguraikan dahsyatnya istighfar serta manfaat besar memohon ampunan kepada Allah SWT sebagai jalan penyucian diri dan pendekatan kepada-Nya.
Beliau membacakan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 222 yakni “Innallaha yuḥibbut-tawwabina wa yuḥibbul-mutaṭahhirin.” Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.

Menurutnya, istighfar yang diajarkan oleh Tuan Guru merupakan sarana taubat untuk memohon ampunan Allah atas segala dosa, baik yang dilakukan secara zahir maupun batin, sekaligus sebagai upaya membersihkan hati dari sifat-sifat tercela yang ada dalam diri manusia.
“Istighfar adalah jalan taubat. Dengan istighfar, kita memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa anggota tubuh dan makom-makom dalam hati, agar sifat-sifat mazmumah dapat dikendalikan,” jelasnya.
SM Muhammad Abdul Malik mengajak para jemaah untuk memperbanyak istighfar dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dengan mengistighfarkan seluruh anggota tubuh hingga ke makom-makom hati, agar hati menjadi bersih dan layak dipenuhi dengan zikir kepada Allah SWT.

“Mari kita duduk sejenak, bertafakur, lalu beristighfar sebanyak-banyaknya, memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa kita, agar hati kita dapat diisi dengan Zikrullah,” ajaknya.
Ajakan tersebut juga ditujukan kepada para jemaah yang telah memperoleh amanah gelar sebagai Syekh Muda, Khalifah, maupun Syarifah, agar senantiasa istiqamah dalam mengamalkan istighfar dan zikir sebagai bentuk pengabdian dan penghambaan diri kepada Allah SWT.
Menurutnya, dengan menjaga adab, memperbanyak latihan, serta bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah suluk dan memperbanyak istighfar, seorang hamba akan lebih mudah mengendalikan sifat-sifat mazmumah dan meraih cinta serta kasih sayang Allah SWT.
“Mari kita jaga adab, latihan, dan kesungguhan dalam ibadah suluk, serta memperbanyak istighfar agar kita mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah SWT. Aamiin,” ucap SM Muhammad Abdul Malik menutup tausiyahnya.
Kontributor: SM Salamuddin Silaen