Berawal dari Spanduk, Kisah Khalifah Nur Shodiq Alkholidi Kembali Bertemu Tuan Guru

Jambi, tnaj.or.id – Ada rindu yang tak pernah benar-benar padam. Dia hanya diam, menunggu waktu untuk dipertemukan kembali. Itulah rindu yang selama 31 tahun dipikul Khalifah Nur Shodiq Alkholidi, seorang murid Thariqat Naqsyabandiyah Alkholidiyah Jalaliyah (TNAJ) asal Bandar Tinggi, Simalungun, Sumatera Utara.
Tahun 1990, Nur Shodiq muda menginjakkan kaki sebagai santri di Pondok Pesantren Yayasan DR Syekh Salman Da’im. Di bawah bimbingan langsung Buya DR Syekh Salman Da’im, ia ditempa lahir dan batin.
Tiga tahun menimba ilmu dan adab, hingga pada tahun 1992, ia dipercaya menerima amanah sebagai Khalifah bergelar Nur Shodiq Alkholidi.
Setahun kemudian, 1993, usai menamatkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Al Washliyah, Khalifah Nur Shodiq memilih merantau ke Rimbo Bujang, Jambi. Keputusan mencari nafkah itu menjadi awal perpisahan panjang dengan Tuan Guru.
Hari-hari merantau dijalani dengan bekerja keras. Lima tahun berlalu, rindu itu kian terasa. Hingga pada 1998, ia pulang ke Bandar Tinggi. Pertemuan dengan Buya DR Syekh Salman Da’im kala itu menjadi perjumpaan terakhir mereka. Setelahnya, kesibukan hidup kembali memisahkan langkah.
Tahun demi tahun berlalu. Khalifah Nur Shodiq Alkholidi menetap di Desa Pemayongan, Kabupaten Tebo, menggarap hidup sebagai petani sekaligus pengusaha pengepul karet masyarakat. Lahiriah tampak tenang, namun di relung hatinya, rindu pada Tuan Guru dan ibadah suluk tak pernah benar-benar sirna.
Tak disangka, takdir Allah datang dengan cara yang sangat luar biasa. Pada Juni 2024, di sebuah konter handphone, matanya tertuju pada sebuah spanduk Pondok Pesantren Marjanul Qalbi Rimbo Bujang. Di sana terpampang wajah yang sangat ia rindukan, Buya DR Syekh Salman Da’im, berdampingan dengan Tuan Guru Dr. SM Munawar Kholil Alkholidi.

“Saat melihat foto Buya, hati saya bergetar. Lama saya tatap, tak terasa air mata jatuh. Rasanya rindu kali sama Buya,” kenang Khalifah Nur Shodiq dengan suara bergetar.
Rindu itu berubah menjadi langkah. Ia mulai mencari alamat pondok pesantren. Dari obrolan sederhana dengan seorang tukang panen, ia mendapat petunjuk tentang seorang Syekh Muda pemilik kebun di Dusun Koridor, Desa Pemayongan, Tebo.
Ia pun menemui sosok bernama SM Arifin Nur. Pertemuan itu terasa istimewa, ternyata mereka berasal dari guru yang sama, sama-sama jemaah TNAJ. Dari sanalah Khalifah Nur Shodiq mengetahui keberadaan Rumah Suluk Buya Syekh Salman Da’im di Jalan 2 Unit 1 Rimbo Bujang.

Ponpes Marjanul Qalbi Rimbo Bujang, Jambi
Tanpa menunda, ia melangkah ke Rumah Suluk Darus Salikin Rimbo Bujang. Di tempat itulah, ia akhirnya bertemu dengan Tuan Guru Dr. SM Munawar Kholil Alkholidi.
Dengan penuh adab dan kerendahan hati, ia memperkenalkan diri sebagai Khalifah Nur Shodiq Alkholidi, santri Bandar Tinggi.
Mendengar pengakuan itu, Tuan Guru Munawar Kholil tak berkata panjang. Beliau langsung memeluknya erat, seakan menyambung rindu yang terputus puluhan tahun.
“Waktu ketemu Tuan Guru kami berpelukan. Saya tak kuasa menahan haru, melepaskan kerinduan selama puluhan tahun,” ujarnya lirih.
Dalam pertemuan yang penuh kehangatan itu, Tuan Guru Munawar Kholil berpesan agar Khalifah Nur Shodiq kembali menghidupkan ibadah suluk yang lama tertunda.
“Alhamdulillah, setelah 31 tahun menanggung rindu, akhirnya saya bisa kembali suluk,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Diketahui, Khalifah Nur Shodiq Alkholidi merupakan Khalifah bernomor 307 dalam nomor urut Khalifah Thariqat Naqsyabandiyah Alkholidiyah Jalaliyah.

Rumah Ibadah Suluk Darus Salikin Rimbo Bujang, Tebo, Jambi
Kini, ia kembali aktif mengikuti suluk dan berdakwah di Kabupaten Tebo, serta membimbing jemaah di Rumah Ibadah Suluk Darus Salikin, Rimbo Bujang, Jambi.
Khalifah Nur Shodiq Alkholidi berpesan kepada jemaah agar tetaplah senantiasa memohon doa dan bimbingan Tuan Guru lahir batin dan dimanapun berada serta memohon untuk bisa istiqomah dalam mengamalkan Thariqat Naqsyabandiyah Alkholidiyah Jalaliyah.
Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa jalan Thariqat tak pernah memutus murid dari guru, meski waktu, jarak, dan kesibukan dunia membentang panjang. Rindu yang dijaga dengan kesetiaan, pada akhirnya akan Allah pertemukan kembali di waktu dan cara terbaik-Nya.
Masyaallah luar biasa kisahnya, Sangat menginspirasi kali dari kerinduan sampai menjadi Istiqomah kembali kepada Thareqah Naqsyabandiyah al kholidiyah jalaliyah, dari kisah ini saya sangat terinspirasi penting nya doa dan bimbingan tuan guru semoga pembaca yang lain bisa mengambil hikmah dari kisah tersebut dan semoga penulis juga bisa memberikan kisah kisah inspirasi lainnya
Terimakasih…..
InshaAllah. Amiin